[Selembar Nasihat] Dialog Hati

Kemudian pada suatu hari yang langit tak tampak kejernihannya dia bertanya, “Untuk apa aku mengenalnya? Untuk apa kita dipertemukan? Aku tidak mengerti bagaimana rumus – rumusNya bekerja dalam kehidupan ini. Aku tidak paham dengan apa yang sebenarnya Dia rencanakan. Haruskah bertemu dengan dia, mereka, atau bahkan haruskah kita dipertemukan? Apakah Allah tau, aku tidak suka bertemu dengannya. Bukan, bukan tidak suka. Aku hanya tidak ingin..ah kau taulah seharusnya.”

Langit masih tetap pada warnanya yang kelabu. Udara masih tetap pada dunianya yang tak kita lihat tapi kita rasakan. Air hujan masih menggantung di langit. Dan kita, sama – sama diam, berpikir, dan menerawang. Berusaha menjawab pertanyaan – pertanyaan yang terlontar sesaat yang lalu, yang sebenarnya mungkin itu pertanyaan klasik. Pertanyaan klasik yang jawabannya kita semua sudah tau, bahwa Allah-lah sutradara dan programmer yang sempurna. Dalam setiap potongan episode hidup kita, dalam setiap sistem di semesta ini, semuanya sempurna, tidak ada yang sia – sia, dan tidak ada pula yang terjadi tanpa alasan. Tapi masalahnya, bagaimana memahami semua itu?

 

Duduklah. Tidakkah kau ingin menikmati cappuccino ini lebih dulu? Mungkin nanti akan kita temukan jawabannya bersama.

Dear, ingat ini. “…dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)”  (Al – An’am : 59)

Allah mengetahui semuanya. Allah mengerti mengapa kita harus bertemu dengannya, termasuk mengapa kita harus duduk berdua saat ini. Kalau kata Tere Liye, hidup ini sebab akibat. Kita bertemu dengan siapa, kita berbuat apa, selalu ada latar belakangnya, dan selalu ada yang menjadi akibat dari hal tersebut. Entah kita sekarang tau, belum tau, atau bahkan memang selamanya akan tersembunyi. Siapa tau kita jadi banyak belajar dengan orang itu, siapa tau dia juga dapat terinspirasi oleh kita. Sungguh banyak nantinya “siapa tau – siapa tau itu” kalau kita jabarkan satu –  satu. Yang pasti, ingatlah bahwa semua pasti ada hikmahnya.

Kita diam, di antara suara – suara air langit. Kita diam, di antara detak jarum jam yang terus bergerak tanpa menoleh ke belakang. Kita diam, di antara udara yang pelan bergerak mencari tempat berteduh. Namun, sebenarnya kita tau, bahwa hati kita sedang berdialog dalam diam ini.

ditulis oleh Dipta Tanaya – Koordinator Akhwat Media FUKI 2013


Mari Tebar Kebaikan!
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInShare on TumblrPin on Pinterest