Menutup Aurat dengan Berjilbab

IMG-20150228-WA0005

Di dalam Islam, aurat dari segi bahasa artinya adalah sesuatu yang mengaibkan. Sedangkan dari segi istilah adalah bagian dari tubuh manusia yang diharamkan untuk dilihat dan dipegang oleh orang lain yang bukan mahram. Hukum menutup aurat adalah wajib, sebagaimana wajibnya perintah untuk melakukan sholat. Hal tersebut berlaku bagi seluruh kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan.

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kehormatannya; janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak padanya. Wajib atas mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. (QS an-Nur [24]: 31)

Sesungguhnya wanita itu adalah aurat, setiap kali mereka keluar, syeitan akan memperhatikannya.” (HR. Bazzar & At- Tirmidzi)

Jelas sekali seorang perempuan muslimah wajib untuk menjaga auratnya. Apa saja batasan aurat bagi seorang muslimah?

Pernah suatu ketika Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah SAW dengan pakaian tipis, lantas Rasulullah berpaling dan berkata:

Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh), maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan.”(HR. Abu Daud dan Baihaqi)

Beliau bersabda mengenai aurat seorang perempuan:

Jagalah auratmu, kecuali dari (penglihatan) suamimu atau budak yang kau punya.” Kemudian beliau ditanya, “Bagaimana apabila seorang perempuan bersama dengan sesama kaum perempuan?” Maka beliau menjawab, “Apabila engkau mampu untuk tak menampakkan aurat kepada siapapun maka janganlah kau tampakkan kepada siapapun.” Lalu beliau ditanya, “Lalu bagaimana apabila salah seorang dari kami (kaum perempuan) sedang bersendirian?” Maka beliau menjawab, “Engkau lebih harus merasa malu kepada Allah daripada kepada sesama manusia.”(HR. Abu Dawud [4017] )

Sangat jelas sekali batasan-batasan tersebut namun kenapa di negara Indonesia ini banyak yang masih mengumbar auratnya? Tidak tahukah bahwa azab karena tidak menutup aurat sungguhlah pedih? Perempuan yang tidak menutup auratnya terancam tidak bisa mencium bau surga. Salah satu hadist menyebutkan:

Dua macam manusia dari ahli neraka yang aku belum melihatnya sekarang, yaitu: (pertama) kaum yang membawa cemeti-cemeti seperti ekor-ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya dan (kedua) wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berjalan dengan menggoyang-goyangkan pundaknya dan berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk onta yang condong. Mereka tidak masuk surga bahkan tidak mendapat wanginya, dan sungguh wangi surga telah tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR Muslim, dan Ahmad dari Abi Hurairah)

Maka dari itu, segeralah menutup aurat kalian sobat! Kita dapat menutup aurat dengan mengenakan jilbab. Jilbab tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penutup kita, tapi juga sebagai identitas seorang muslimah yang sangat dimuliakan Allah. Ia bukanlah penghalang bagi seorang muslimah untuk menjalankan aktivitas kehidupannya. Dengan kata lain jilbab merupakan bagian dari syari’at yang penting untuk dilaksanakan oleh para muslimah. Jilbab adalah pakaian yang menutupi dari atas hingga ke bawah. Maka dari itu berjilbab yang baik dan benar tidak hanya dengan memakai kerudung saja yang menutupi rambut. Tetapi juga menutupi aurat kita hingga ke bawah. Allah SWT berfirman:

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59).

Seringkali banyak orang yang berjilbab, namun masih banyak yang belum menutup aurat dengan benar. Sampai-sampai ada fenomena jilboobs, berjilbab dengan memakai pakaian yang ketat dan membentuk tubuh. Kita harus mengenali bagaimana jilbab yang baik dan benar. Kriteria tersebut bukanlah berdasarkan kepantasan atau mode yang lagi trend, melainkan berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jika kedua sumber hukum Islam ini telah memutuskan suatu hukum, maka seorang muslim atau muslimah terlarang untuk membantahnya.

Kriteria-kriteria tersebut adalah yang pertama, tentu saja harus menutupi seluruh tubuh kita kecuali yang diperbolehkan seperti telapak tangan dan wajah yang artinya juga harus menutupi dada. Kemudian longgar dan tidak ketat, tidak boleh menunjukkan lekuk tubuh karena sesungguhnya jilbab itu adalah penutup bukan pembungkus. Yang ketiga, jilbab tersebut tidak boleh transparan dan tipis kainnya. Lalu tidak dijadikan sebagai perhiasan, artinya tidak berlebihan dan mengikuti trend tertentu. Apalagi dalam mengenakan kerudung, kita harus berhati-hati. Boleh saja dengan berbagai model asal tetap memenuhi syarat. Kerudung bukanlah pengganti rambut kita,  yang bisa kita tata seenak hati.

Berjilbab memang sebuah kewajiban, namun kita tidak boleh merasa terbebani olehnya. Sebaliknya, kita akan bangga jika kita menyadari maknanya. Allah SWT sangat memuliakan perempuan. Allah ingin menjaga dan melindungi kita. Tanpa disadari tenyata banyak sekali manfaat jilbab. Selain melindungi kita dari tindak kejahatan, jilbab juga sebagai pengingat kita agar tetap istiqomah di jalan Allah. Sehingga hati kita juga akan lebih tentram karena adanya perasaan terlindungi dari nafsu para lelaki. Jilbab menjaga kemuliaan kita sebagai seorang perempuan yang sangat berharga. Perempuan bukanlah sebuah pajangan yang dapat dipamerkan dan dipertontonkan secara bebas. Dengan berjilbab harga diri kita bisa terjaga. Jilbab tidak hanya menjadi penutup aurat tapi juga penjaga iman kita, menjaga akhlak kita agar tetap baik bahkan bisa lebih baik lagi. Tidak perlu ada rasa takut dalam memakai jilbab.

Bila seorang muslimah telah mengenakan jilbab dalam kehidupan sehari-harinya, maka itu pertanda bahwa ia telah menunjukkan identitas dirinya sebagai seorang muslim. Hal ini pun harus dibarengi dengan kepercayaan diri, rasa bangga akan identitas keislaman, serta kerendahan hati untuk melaksanakan perintah Allah. Jilbab itu bukan hal yang memalukan, namun sebuah keikhlasan dan komitmen untuk terus menjaga iman kita kepada Allah. Jangan takut kalau tidak akan terlihat cantik lagi karena sesungguhnya tolak ukur terbaik adalah penilaian dari Allah. Di hadapannya semua manusia itu sama, yang membedakannya adalah iman. Tidak ada kata terlambat untuk berjilbab. Tidak perlu menunggu hingga siap. Berjilbab tidak hanya untuk muslimah yang imannya tinggi. Jilbab tersebut yang akan menjadi pelindung iman kita. Jadi segeralah memakai jilbab. Semua memang butuh proses, tapi proses itu tidak akan berjalan jika tidak ada niat dalam diri kita untuk berubah dan memulai proses tersebut. Selalu  ada syaitan yang akan menggoyahkan niat kita. Beranilah dan tunjukkan identitasmu yang sesungguhnya. Jaga aurat = Jaga Iman 🙂


Mari Tebar Kebaikan!
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInShare on TumblrPin on Pinterest