(BICARANYA) HARUS CANTIK! HARUS BAIK!

MuC Post Edited fix

Setiap tindakan kita telah dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid. Di akhirat nanti, kita harus bertanggung jawab atas segala perbuatan kita tak terkecuali dengan apa yang telah kita ucapkan. Dan setiap anggota tubuh kita akan menjadi saksi atas setiap langkah kita. Maka sebaiknya kita selalu menjaga tindakan kita, berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Sesuai dengan firman Allah SWT:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung jawaban.” (QS. Al-Isra [29]: 36)

Pernahkah kamu berpikir tentang kata-kata yang telah kamu ucapkan selama ini? Setiap hari kita berbicara, tidak hanya kepada orang lain, namun juga diri sendiri. Ketika kita berdoa pun sebenarnya kita sedang berbicara dengan Allah. Lalu bagaimana kamu berbicara selama ini?

Rasulullah mengajarkan kita menjaga diri dari berkata yang tidak baik. Tidak saja kepada manusia, kepada benda atau makanan pun beliau benar-benar menjaga diri dari berkata buruk. Kita dianjurkan membaca bismillah sebelum melakukan sesuatu, bahkan ketika hanya meminum air. Penelitian yang dilakukan oleh Doktor Masaru Emoto dari Universitas Yokohama mengenai perilaku air menemukan bahwa struktur dari kristal air menjadi sangat indah ketika kita ucapkan sesuatu yang baik pada air tersebut, sebaliknya apabila kita berkata buruk maka akan menjadi buruk. Hal ini membuktikan salah satu kekuasaan Allah dan juga sebagai contoh serta teladan bagi kita semua agar selalu berbicara baik setiap harinya.

Allah melarang kita berbicara buruk. Berbicara buruk itu termasuk berkata hal yang sia-sia, berbohong, membuka aib orang lain, berdebat, adu mulut, mencela, mengumpat, menggunjing, mengejek, melanggar sumpah, membuka rahasia dan hal-hal lain yang serupa. Dan, siapa yang sering berkata buruk, maka ia termasuk kelompok pengumpat lagi pencela yang pasti akan menerima kecelakaan. (QS. Al-Humazah [104]: 1)

Pernahkah kamu mengumpat ketika kamu kesal? Mungkin hal tersebut sepele, kata-kata yang biasa kita gunakan sehari-hari, namun tanpa kita sadari kita mengucapkan hal hal kotor. Hal inilah yang sangat dikhawatirkan, perbuatan tersebut seolah-olah tidak apa-apa karena banyak orang yang berlaku sama. Pernahkah kamu hitung dalam sehari berapa kali kamu mengumpat? Seolah olah kata-kata tersebut adalah sebuah trend. Ketika kita tertimpa musibah hendaknya kita mengingat Allah dan berdzikir bukannya malah berbicara kotor seperti hal nya “Anj..” atau “Sh..”. Kadang kalanya memang bukan hal yang berarti buruk namun banyak yang mengucapkannya selagi kesal seakan sedang menyalahkan sesuatu karena tidak berjalan semestinya. Istighfar ukhti, daripada begitu, lebih baik kita meminta pertolongan kepada Allah SWT. Mengumpat dilarang oleh Allah SWT. Tahanlah amarahmu ukhti. Ingatlah kemarahan itu datangnya dari syaitan, maka jangan sampai tergoda.

“Usirlah setan dengan melakukan hal yang lebih baik. Maka musuh terjahatmu sekalipun akan menjadi teman baikmu.” (QS. Fussilat [41]: 33)

Ahli hikmah berkata, “Janganlah ada ucapan kotor ketika engkau marah, sebab itu hanyalah menambah cela dan kekurangan, dan menimpuki kenegatifan dan kejelekanmu, serta mendatangkan dosa dan siksa atasmu.”

“Jika salah satu darimu menjadi marah saat ia sedang berdiri, maka duduklah. Maka rasa amarah itu akan pergi. Dan jika masih belum pergi juga, maka berbaringlah.” (Ahmad)

Sebagai seorang muslimah yang baik, tidak sepatutnya kita berkata kasar, kita harus menjaganya dengan baik. Seorang muslim tidak pernah bersumpah serapah, dan menggunakan bahasa kotor. Seorang muslim berbicara dengan bersahaja dan terhormat.

Dan jangan juga kita berbicara kasar kepada orang lain, karena itu akan menimbulkan sakit hati. Semarah apapun kita, jangan ukhti! Karena dosanya sungguh lebih berat dibanding berbuat zina. Apabila kita berzina, apabila kita bertaubat kepada Allah, maka Allah akan mengampuni dosa kita, namun berbeda dengan berkata kasar, kita tidak akan diampuni Allah sebelum orang yang kita sakiti tersebut memaafkan kita. Allah juga tidak menyukai orang yang berdusta hanya untuk membuat orang tertawa karena perkataan kita memiliki akibat berbeda bagi semua orang.

Ketika berbicara dengan orang lain hendaknya menggunakan nada dan intonasi yang sopan, jangan berteriak dan membentak. Allah berfirman :

“Dan rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS. Luqman [31]: 19)

Berbicara buruk hanya akan menimbulkan penyesalan. Bayangkan apabila kata-kata buruk itu menjadi kata-kata terakhirmu. Kita memang tidak pernah tahu kapan Tuhan akan mengambil nyawa kita. Maka dari itu hendaknya kita selalu berpikir terlebih dahulu apabila ingin mengucapkan sesuatu. Kata-kata memiliki dampak yang luar biasa. Seseorang bisa bertengkar dengan temannya hanya karena salah paham dengan kata yang di ucapkannya. Perang, pertikaian antarnegara atau perseorangan sering terjadi karena perkataan dan provokasi kata. Namun kata-kata bisa menginspirasi orang, begitulah para penyair mempengaruhi orang dengan kata-kata puitis. Ucapan adalah doa. Bagaimana di saat kita berkata buruk, malaikat mengamini doa kita kemudian dikabulkan oleh Allah SWT, tentu yang ada hanyalah penyesalan.

Hadits Hasan riwayat Imam Ahmad menyebutkan, bahwa semua anggota badan tunduk kepada lisan. Jika lisannya lurus maka anggota badan semuanya lurus, demikian pun sebaliknya. Ath-Thayyibi berkata, lisan adalah penerjemah hati dan penggantinya secara lahiriyah. Karena itu, hadits Imam Ahmad di atas tidak bertentangan dengan sabda Nabi yang lain:

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal darah, jika ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan bila rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). [1]

Jika memang tidak bisa berkata baik maka diamlah. Diam adalah tindakan yang tepat untuk menjaga kita. Sedangkan diam pada waktunya merupakan sifat yang patut dimiliki setiap muslim. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari)

Kurangilah bicara yang tidak perlu. Sulit untuk mengendalikan apa yang kita bicarakan maka lebih baik jangan terlalu banyak bicara. Allah tidak menyukai muslimah yang suka menggunjing. Setiap apa yang kita dengar janganlah langsung kita sebarkan namun perhatikan baik-baik darimana informasi tersebut berasal, apakah benar. Jika tidak benar maka kita sama saja dengan memfitnah. Dan seperti yang kita tahu selama ini dosa fitnah sungguh lebih kejam dari pembunuhan.

Sebagai seorang muslim yang berpendidikan kita sangat dianjurkan untuk bersikap kritis akan hal hal yang ada di sekitar kita. Karena hal itu muncullah perdebatan antar umat muslim. Namun perlu kita ketahui, berdebat tanpa dasar yang jelas hanya akan membuang-buang waktu dan menimbulkan retaknya persaudaraan. Masyaallah!

Sebagai muslimah yang baik, tidak hanya harus baik ibadah dan hatinya, namun juga baik bicaranya. Bicaralah dengan anggun dan cantik. Dengan begitu kamu bisa menjadi muslimah yang dirindukan surga.

“Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (mulut) dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya.” (HR. Bukhari dan Tirmidzi)

Dikutip dari
1. Bulein Annur – Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits, “Adab Berbicara” [7 April 2004] diakses dari http://alsofwah.or.id/cetakannur.php?id=238


Mari Tebar Kebaikan!
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInShare on TumblrPin on Pinterest