WHY DO WE LIE?

035-MuC Post

Assalamu’alaikum,
بِسْـــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Kita sebagai manusia tentunya tak lepas dari interaksi sosial dengan sesama, salah satunya melalui bercerita, tukar informasi, atau curhat. Nah, dalam berinteraksi dengan orang lain, adakah diantara kita yang selalu berkata jujur? Jika kalian salah satu diantara orang yang menjunjung tinggi kejujuran, dua jempol deh buat kalian. Tetapi, disisi lain masih banyak orang-orang yang masih berbohong tanpa beban. Mungkin ada yang menyangkal kebohongan tersebut dengan kalimat “Ah, bohongnya kan cuma sekali, nggak sering kok..” Tetapi, seringkali kebohongan yang terucapkan tidak kita sadari atau kita anggap sebagai suatu yang lazim. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

”Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada perbuatan baik, dan perbuatan baik menunjukkan kepada surga, dan sesungguhnya seseorang yang membiasakan jujur ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta menunjukkan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa menunjukkan kepada neraka, dan sesungguhnya seseorang yang biasa berdusta ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”- (Muttafaq ‘Alaih, dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu).

Menurut hadits tersebut, bagi mereka yang berbuat kebohongan tanpa adanya beban dalam diri apalagi bagi mereka yang menjadikan kebohongan sebagai kebiasaan maka, kebohongan itulah yang menjadikan mereka mendapatkan dosa sekaligus menjadi jalan pintas menuju api neraka, masyaAllah. Baik kebohongan itu hanya ia lakukan sekali, dua kali, maupun sering sekali, tetap akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta. Lalu kenapa alasan apa saja yang menyebabkan mereka melakukan kebohongan?

1. Kebiasaan. Ketika kita sering berbohong dan tidak merasakan beban sama sekali, maka inilah tanda-tanda bahwa ia telah menjadikan kebohongan sebagai kebiasaan. Bagi beberapa orang yang membiasakan dirinya berbohong, maka orang lain akan kesulitan untuk membedakan perkataan mana yang jujur dan mana yang dusta.

2. Malu. Bagi beberapa orang, dengan berbohong mereka dapat menyembunyikan kejelekan atau kekurangan yang mereka miliki. Dengan begitu tingkat kepercayaan diri mereka meningkat. Tetapi, bagaimana dengan tingkat kepercayaan orang lain kepada mereka? Akan berbanding terbalik.

3. Tidak ingin menyakiti orang lain. Bagi mereka yang mempunyai sifat “baik” bisa saja menjadikan alasan ini sebagai latar belakang mengapa mereka berbohong. Memang membahagiakan orang lain merupakan salah satu perilaku yang dicintai Allah, sesuai dengan hadits :

“…Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan pekerjaan yang paling dicintai Allah adalah menggembirakan seorang muslim, atau menjauhkan kesusahan darinya,…”- (HR. Thabrani)

Tetapi, kenapa harus dengan berbohong???
Pada hadits berikut, dijelaskan bahwa menghibur orang lain hingga tertawa dengan cara berbicara kebohongan, maka celakalah dia.

“Celakalah orang yang berbicara, padahal ia berbohong untuk sekedar membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, kemudian celakalah dia.”- (HR. Abu Dawud dan Al-Tirmizi. Dihassankan oleh Al-Albani).

Maka bagi kalian yang ingin menyenangkan orang lain, pilihlah cara yang baik, yang diridhoi oleh Allah. Jangan berlebihan dan jangan melanggar aturan-Nya. 🙂

Setelah membahas 3 alasan mengapa seseorang berbohong. Jadi apa bohong itu? Bagaimana pandangan Islam tentang kebohongan? Islam sendiri telah menetapkan orang yang suka berbohong atau berkata dusta sebagai tanda orang munafik, sesuai dengan hadits berikut :

“Tanda orang munafik ada tiga: apabila ia berkata dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila diberi amanat berkhianat.” – (Muttafaq ‘Alaih).

Dan yang harus diperhatikan lagi, bahwa Allah telah berfirman dalam Q.S Al-Baqarah ayat 39 yang mempunyai arti “Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” Jadi, adakah diantara kalian yang ingin menjadi penghuni neraka yang kekal? Tetunya tidak ada diantara kita yang ingin merasakan menjadi penghuni kekal neraka, masyaAllah. Melanjutkan firman Allah yang sebelumnya, maka pada Q.S Al-Nahl ayat 105 tercantum bahwa bagi mereka yang melakukan kebohongan adalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Al-Qur’an. “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.”

Seperti yang telah disebutkan pada awal artikel, bahwa manusia berinteraksi dengan manusia lain dapat melalui berbagi informasi. Berhati-hatilah ketika kau mulai berbagi informasi dengan orang lain, ketika informasi yang kita terima langsung kita sebar tanpa adanya klarifikasi atau mengecek kebenarannya, maka ia dianggap telah berdusta. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW “Cukuplah seseorang dianggap berdusta kalau dia menyampaikan setiap yang ia dengar.” (HR. Muslim).

Tetapi, mungkin kalian pernah mendengar tentang kebohongan yang diperbolehkan oleh islam? Benar, walaupun bohong itu adalah perbuatan yang tercela namun ada kondisi-kondisi tertentu dimana kita tedesak untuk berbohong demi kebaikan. Apa sajakah kebohongan tersebut?

1. Berbohong untuk mendamaikan antar sesama manusia
Seperti yang telah Rasulullah SAW sabdakan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Ummi Kultsum binti Uqbah:

“Bukan seorang pendusta, orang yang berbohong untuk mendamaikan antar-sesama manusia. Dia menumbuhkan kebaikan atau mengatakan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Riwayat lainnya:

“Belum pernah aku dengar, kalimat (bohong) yang diberi keringanan untuk diucapkan manusia selain dalam 3 hal: Ketika perang, dalam rangka mendamaikan antar-sesama, dan suami berbohong kepada istrinya atau istri berbohong pada suaminya (jika untuk kebaikan).” (HR. Muslim)

Dalam hadist lain yang diriwayatkan dari Asma’ binti Yazid:
Dari Asma’ binti Yazid dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Bohong itu tidak halal kecuali dalam tiga hal (yaitu) suami pada istrinya agar mendapat ridho istrinya, bohong dalam perang, dan bohong untuk mendamaikan diantara manusia”.

2. Bohongnya suami untuk mendapatkan ridho istri.
Yang dimaksud adalah bohongnya suami untuk menampakkan rasa cinta dan kasih kepada istrinya, memuji-muji kecantikan istri, gombal dan lainnya yang bertujuan demi lestarinya kerukunan dan keharmonisan dalam rumah tangga. Sehingga sang istripun merasa senang dan tersipu malu dan tenang saat bersama dengan suami. Akhirnya terjalin keluarga yang harmonis dan penuh canda tawa antar suami-istri.
Namun yang harus diperhatikan disini adalah larangnya bohong yang bisa meninggalkan kewajiban, mengambil hak istri ataupun sang suami tidak bertanggungjawab terhadap istrinya. Maka yang seperti ini sangat dilarang.

“Ulama sepakat bahwa yang dimaksud bohong antar-suami istri adalah bohong yang tidak menggugurkan kewajiban atau mengambil sesuatu yang bukan haknya.”- (Fathul Bari, 5:300)

3. Bohong dalam peperangan
Contohnya adalah berbohong dalam bersiasat atau membuat strategi perang dengan berpura-pura menunjukkan kekuatan perang yang lebih besar dst. Namun berbohong untuk mengingkari sebuah perjanjian perang tidak diperbolehkan.

Walau bagaimana pun tindakan tersebut tetaplah dosa. Maksud diperbolehkan disini bukan serta merta dibebaskan dari jeratan dosa namun hanya sebatas diberi keringanan oleh Allah.

Berbohong merupakan perbuatan yang sangat merugikan tidak hanya bagi orang lain namun juga diri sendiri. Orang yang dibohongi tentu merasa sangat kecewa sehingga hilanglah kepercayaannya kepada kita. Jika sudah begitu, meskipun kita berkata benar namun banyak yang tidak percaya. Merugi bukan? Ingatlah, berbohong itu bukanlah sebuah solusi. Untuk menutupi sebuah kebohongan diperlukan kebohongan yang lain. Sekali berbohong, sulit sekali untuk mengakhirinya tanpa mengungkap kebohongan-kebohongan yang telah kita lakukan sebelumnya. Marilah kita bertekad membuang sikap ini dengan selalu mengedepankan sikap jujur. Jujur walaupun harus menanggung resiko dengan menerima segala konsekuensi yang ada, lebih baik diungkap di awal daripada harus berbohong. Mungkin saja malah dengan berterus terang, akibat yang ditimbulkan tidak seburuk yang kita kira. Nabi Muhammad saw menegaskan,

“Berlaku jujurlah, karena sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan sesungguhnya kejujuran itu menuntun ke surga. Dan jauhilah dusta, karena dusta itu menyeret kepada dosa dan kemungkaran, dan sesungguhnya dosa itu menuntun ke neraka.”- (HR Bukhari).

Bagaimana menyadari kebohongan kita? Yang pertama, coba teliti lagi kebiasaan apa saja yang kita lakukan. Walau hanya sekedar ‘ngeles’ maupun berbohong dalam skala besar, kita perlu menghindarinya. Coba buat daftarnya dan sebisa mungkin jangan pernah mengulanginya. Pikirkan dampak dan resiko ke depannya. Yang terakhir, hindari sumber kebohongan yaitu hal-hal yang bisa membuat kita berbohong.

Jika telah diketahui demikian berat siksa neraka bagi mereka yang berbuat dusta maka selayaknya kita menjauhi bentuk-bentuk dusta dan bohong, baik yang beresiko besar atau yang beresiko kecil. Baik saat serius maupun saat becanda. Niatkan hati dan kuatkan langkah, mulai hari ini akan jalani hidup ini dengan busana kejujuran, apapun yang terjadi kejujuran harus tetap melekat pada diri kita.
Al-Hikam menyatakan, “Pembohong sama saja dengan pencuri. Hanya saja pencuri itu mencuri hartamu, sedangkan pembohong itu mencuri akalmu.”
Yuk ukhti, mulai terapkan berkata jujur mulai saat ini. 🙂

Referensi :
1. http://www.solusiislam.com/2013/01/tidak-semua-kebohongan-itu-dosa.html


Mari Tebar Kebaikan!
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInShare on TumblrPin on Pinterest