Menjunjung Tinggi Nilai Kejujuran

poster_truth_lies

 

 

Menjunjung Tinggi Nilai Kejujuran
Oleh Azhar Fauzan Kepala Departemen Sospol FUKI 2015

“Hendaklah kamu selalu berbuat jujur, sebab kejujuran membimbing ke arah kebajikan, dan kebajikan membimbing ke arah surga. Tiada henti-hentinya seseorang berbuat jujur dan bersungguh-sungguh dalam melakukan kejujuran sehingga dia ditulis di sisi Allah sebagai orang jujur. Dan hindarilah perbuatan dusta. Sebab dusta membimbing ke arah kejelekan. Dan kejelekan membimbing ke arah neraka. Tiada henti-hentinya seseorang berbuat dusta dan bersungguh-sungguh dalam melakukan dusta sehingga dia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.”

– (H.R. Bukhari dan Muslim)

“Berani Jujur Itu Hebat”, mungkin sebahagian dari kita menganggap slogan tersebut sudah mendarah daging dalam diri kita. Hampir setiap saat kita melihat slogan tersebut, apalagi mereka yang hobinya menonton TV. Slogan yang dikampanyekan oleh KPK tersebut bertujuan untuk mengimbau masyarakat untuk senantiasa menanamkan nilai jujur kapanpun dan dimanapun. Karena KPK percaya, akar permasalahan bangsa, yaitu korupsi, disebabkan karena kritisnya nilai kejujuran dalam masyarakat kita.

Berangkat dari nilai jujur tersebut, penulis ingin menceritakan sebuah kisah. Kisah seorang polisi teladan yang memiliki nilai keadilan dan kejujuran yang luar biasa, ia adalah Hoegeng Imam Santoso. Hoegeng adalah kapolri pada masa Orde Baru (1968-1973). Hoegeng sangat terkenal dengan sifat jujur dan adilnya. Sampai, mantan presiden Indonesia, Gusdur, pernah mengatakan, “hanya ada 3 polisi yang paling jujur di Indonesia. Ketiganya adalah patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng”. Selain terkenal dengan kejujuran dan sifat adilnya, Hoegeng juga dikenal sebagai kalpolri paling sederhana yang pernah ada.

Sebelum Hoegeng menjadi kapolri (1968), Hoegeng lebih dulu bekerja sebagai direktur jenderal (dirjen) imigrasi (1960). Ada kisah menarik sebelum Hoegeng diangkat menjadi dirjen imigrasi. Ketika itu, Hoegeng bersama istrinya telah memiliki usaha. Mereka memiliki usaha toko kembang yang omset dan keuntungannya sudah sangat besar. Dengan penjualan bunga itupun sebenarnya sudah cukup untuk menghidupi kebutuhan Hoegeng dan keluarganya. Namun, tepat sebelum diangkat menjadi dirjen imigrasi, Hoegeng lebih memilih untuk menutup usaha toko bunga yang sudah mereka bangun dari nol tersebut. Alasan mereka menutupnya pun tidak biasa, yaitu karena mereka khawatir jika nantinya semua orang yang berurusan dengan imigrasi akan memesan kembang pada toko kembang mereka, dan menurutnya ini tidak adil untuk toko-toko kembang lainnya.

Sungguh langka dan sangat jarang menemukan sosok pemimpin seperti Hoegeng saat ini. Rela mengorbankan usahanya yang sudah sukses dan besar. Bukan hanya karena jabatan atau amanah yang baru ia terima, melainkan juga karena ia tidak mau mendzalimi pengusaha toko kembang lain yang menjadi kompetitornya. Sikap jujur dan adil yang Hoegeng miliki saat itu pun luar biasa, karena Hoegeng menunjukkan oase menyejukkan di tengah perilaku koruptif para pemimpin bangsa. Sungguh, saat ini, segenap rakyat Indonesia sangat merindukan kehadiran sosok Hoegeng yang baru, pemimpin yang bersih, jujur, dan adil.

Kata Jujur adalah kata yang bermakna universal dan diterima oleh semua pihak, baik itu yang “putih” maupun yang “hitam”. Jujur bermakna pula ketulusan dan keterbukaan dalam berhubungan dengan orang lain, menyampaikan segala sesuatu sesuai apa adanya, selaras antara apa yang di hati dengan ucapan dan perbuatan. Jujur juga bermakna menerima segala sesuatu yang menjadi haknya dan menolak segala susuatu yang bukan haknya. Tidak ada yang ditutup-tutupi dan disembunyikan. Dan dengan kejujuran segala laku bajik di muka bumi ini dimulai. Tanpa kejujuran, Life is nothing. Penerapan kejujuran di segala kegiatan pun harus dilakukan sejak dini (generasi muda) karena kejujuran adalah kunci kesuksesan. Sekali orang berlaku tidak jujur maka ia akan melakukan tindakan tidak jujur tersebut untuk menutupi ketidakjujuran yang pertama. Hal itu akan terus-menerus dilakukan apalagi jika hal itu menguntungkan.

Dengan berbekal Jujur para pemuda Indonesia seharusnya mengawali darmanya untuk masyarakat dan negeri. Sehingga mereka tidak akan terwarnai dan ternodai oleh sikap koruptif dan terpengaruh oleh sistem yang korup. Dan malah para pemuda Indonesia yang jujur ini dapat membuat sistem yang korup menjadi mandul dan tidak dapat melahirkan kembali penerus/generasi korup berikutnya.

Ingatlah, pilar kebangkitan peradaban adalah pemuda, jika pemuda sudah krisis moralnya, krisis kejujurannya, lantas siapa yang akan mengangkat pilar peradaban itu ke permukaan?. Oleh karena itu, walau sudah sering diingatkan, di hari kebangkitan nasional ini dan untuk Indonesia yang lebih baik, penulis kembali mengajak seluruh generasi muda agar menjadikan kejujuran sebagai nilai yang kita junjung tinggi. Kejujuran sebagai semangat zaman yang akan menjadi episentrum perubahan menuju Indonesia yang bermartabat.

“Kejujuran memang menyakitkan, tetapi tidak mematikan. Kebohongan memang menyenangkan, tetapi tidak menyembuhkan.”

anonim


Mari Tebar Kebaikan!
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInShare on TumblrPin on Pinterest

One thought on “Menjunjung Tinggi Nilai Kejujuran

Comments are closed.