Kemanakah harapan ini ditujukan?

berharap

oleh Arief Prasetyo

“Hidup ini penuh perjuangan”. Begitulah kata bijak yang sudah masyhur di masyarakat kita. Memang seperti itu adanya. Dalam hidup harus ada perjuangan. Tidak mengenal usia maupun kedudukan, setiap hidup yang dijalani oleh manusia penuh dengan perjuangan. Mulai dari anak kecil yang berjuang hingga tidak terhitung berapa kali terjatuh saat belajar berjalan, seorang pelajar yang berjuang belajar dengan gigih untuk mendapatkan ilmu yang ia kejar, seorang pekerja yang berjuang bekerja demi mencari nafkah yang halal, hingga seorang pensiunan yang

Terlebih, terlihat sekali betapa banyak manusia yang berjuang untuk kehidupan dunianya. Bisa kita hitung sendiri berapa bagian dari hidup kita sehari-hari yang kita gunakan untuk berjuang bagi kehidupan dunia. Bekerja, bermain, maupun tidur bisa menghabiskan lebih dari 2/3 waktu kita sehari-hari. Mari kita cari tahu sendiri, berapa jam kerja di negara lain selain Indonesia? Masih banyak negara yang memiliki jam kerja lebih lama dibanding Indonesia. Jam kerja lebih lama, tentu perjuangannya juga lebih besar untuk mengejar dunianya, bukan?

Tidak hanya mengejar kehidupan dunia, dalam mengejar kehidupan akhirat pun penuh dengan perjuangan. Bukankah untuk berzakat perlu berjuang mempunyai harta? Bukankah untuk melaksanakan shalat perlu berjuang menahan bisikan “nanti saja”? Paling ingat mungkin, bukankah dalam berpuasa sangat diperlukan perjuangan melawan rasa lapar dan dahaga? Pun tidak hanya umat Muslim, umat lain pun memiliki perjuangan menurut definisi mereka sendiri dalam ibadah yang mereka laksanakan. Jadi, hidup ini penuh perjuangan, bukan?

Alkisah, salah satu Amirul Mu’minin, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berjalan melewati sebuah biara. Lalu, beliau bertemu dengan seorang rahib. Lalu, dilihatnya rahib itu. Tidak terasa, air mata membasahi wajahnya. Setelah mereka saling berlalu, ditanyakan kepada Amirul Mu’minin, “mengapa engkau menangis ketika melihat rahib itu?” dijawabnya, “betapa besar perjuangan rahib itu dalam beribadah. Namun, apa yang ia perjuangkan itu, tidak bermanfaat baginya di akhirat kelak”.

Kawan, bukankah kita sudah merasakan sendiri bagaimana beratnya perjuangan hidup ini? Baik berjuang untuk dunia maupun untuk kehidupan akhirat. Namun, pernahkah kita berpikir, apakah perjuangan yang kita lakukan itu dapat memberi manfaat untuk kita di kehidupan akhirat kelak? Sangat semu sekali harapan dalam sebuah perjuangan hanya karena kehidupan dunia; baik itu karena manusia, harta, kedudukan, ataupun yang lain. Karena misalkan jika kita berharap terhadap hal itu, manusia pun masih perlu berharap. Jadi, kemanakah harapan ini ditujukan? Ingatlah kawan, inilah keistimewaan seorang muslim. Di sana ada Dzat yang selalu bisa menjadi tempat berharap. Dzat yang tidak membutuhkan harapan dari semua makhluk-Nya. Meskipun semua makhluk-Nya tidak berharap kepada-Nya, tidak sedikitpun mengurangi keagungan-Nya. Dzat yang senantiasa mendengar harapan-harapan dari makhluk-Nya. Juga Dzat yang tidak akan menzhalimi makhluk-Nya. Dialah Allah SWT. Masihkah berharap selain kepada-Nya?

وَلا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لا يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا (١٠٤


Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana (4:104).

Wa-Allaahu a’lam bi-shshawaab

Dengan editan yang disarikan dari ceramah Ustadz Hasan Zuhri, Lc
Dalam sebuah kesempatan penyampaian di Indonesia Quran Foundation

~ AP


Mari Tebar Kebaikan!
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInShare on TumblrPin on Pinterest