Sehalus Embun Part 1

kak araz part 1

oleh Ahmad Razak Mustafa

Hembusan angin penghujung Desember, entah mengapa terasa begitu menyesakkan. Desember akan berakhir, begitu pula tahun 2013. Petala langit senja kian suram, rombongan awan menutupi sinar mentari petang yang sedikit lagi akan hilang ditelan malam. Di dalam mobil yang sedang melaju mulus aku duduk dengan setengah bingung apa yang sedang terjadi. City Car putih yang aku tumpangi, dikendarai oleh seorang teman baik yang bersedia meluangkan tenaga, bensin, dan waktunya untuk mengantarkan aku ke salah satu stasiun besar di salah satu kota besar di Pulau Jawa.

Aku hanya bisa termenung menahan nafas yang agak tersengal. Bukan, aku bukan asma. Hanya keadaan hati yang sedang tidak baik, sehingga memengaruhi kerja paru-paru yang seharusnya bisa bekerja secara normal. Tanpa terasa roda mobil telah berhenti, dan aku dapat melihat bangunan stasiun yang telah beroperasi sejak 1914 silam berdiri kokoh tepat di seberang kaca mobil. Sedikit basa basi perpisahan dengan teman, kemudian aku berbalik berjalan meninggalkan mobil. Hari ini begitu berat, bisa kah hari ini selesai lebih awal, setidaknya itulah yang terlintas di benakku.

Tak kuasa ku menahan beban di hati ini sendiri, setidaknya aku butuh seorang untuk mendengarkan atau melihat apa yang terjadi pada ku. Adzan magrib berkumandang, entah mengapa, tapi haru ku rasa mendengar panggilan itu, Allah mendengar keluhku. Ku segera membasuh diri yang penuh dosa ini dengan curahan air suci lagi mensucikan. Dalam shalat, dalam doa, ku meminta petunjuk pada Yang Maha memberi Petunjuk, pada Dzat Yang Maha Memahami diriku lebih dari ku mengenal diriku, Dzat Yang Maha Mengetahui keadaanku lebih dari ku mengetahui apa yang terjadi padaku.

Setelah menuntaskan kewajiban sebagai seorang hamba, hadirlah aku, terduduk di bangku dalam ruang tunggu, menanti kedatangan gerbong-gerbong yang ditarik oleh lokomotif diesel yang sebentar lagi akan membawa aku ke ibu kota Jawa Timur. Waktu terasa memuai seperti memuainya logam yang terkena panas, panjang, lama. Yang Maha Mengatur Waktu, tolong buat hari ini cepat berlalu, tak lelah ku terus mengulang kalimat itu dalam hati bak kaset rusak, yang pitanya telah usang dimakan waktu.

Dalam kekosongan itu, ada seseorang menyapa dari sebelah kiri dengan pertanyaan yang tidak lumrah ditanyakan sebagai pembuka obrolan.
“Muslim mas?” dengan wajah serius, ku yakin orang ini sedang tidak ingin bercanda.
“Eh iya pak, saya muslim” teman ngobrol mungkin bisa menjadi obat bius sementara atau setidaknya pengalih dari pikiran yang kalut, ungkap ku dalam hati.
“Oh, Alhamdulillah, saya juga muslim mas” ungkap bapak itu sembari tersenyum saat aku mencoba menerka-nerka mengapa bapak setengah baya dengan kulit sawo matang dengan badan yang cukup subur ini menanyakan hal demikian pada orang yang belum dikenalnya.
“Orang tua juga muslim mas?” sambung bapak tersebut sambil menjaga anak lelakinya yang berumur sekitar dua atau tiga tahun yang tepat duduk di pangkuannya.
“Iya pak Alhamdulillah” jawabku dengan senyum disertai rasa penasaran kemana arah pembicaraan bapak ini.
“Boleh cerita sedikit ga mas, aku ini muallaf” pernyataan singkat namun cukup kuat untuk menarik seluruh perhatianku padanya. Tanpa perlu diminta, bapak ini kemudian memulai ceritanya. Kini pandangan, pendengaran, perhatianku fokus kepadanya.

“Dulu aku tinggal dan bekerja di Kalimantan mas. Aku dulu kerjanya buruh serabutan, jika lagi ada panggilan kerja tiap hari, jika tidak, ya pakai uang yang ditabung-tabung sebelumnya.”
“Tapi, walau penghasilan sangat pas-pasan dan malah sering kekurangan, aku tak pernah kekurangan makan untuk aku dan keluarga ku mas. Di agama ku dulu, makan ku sekeluarga 3 kali sehari terjamin. Rumah ibadah selalu siap memberi dan menyediakan kebutuhan dasar kami, sehingga makan kami tidak pernah kekurangan dalam hal kebutuhan pokok.” tanpa terasa aku ikut hanyut dalam cerita bapak itu, fokus, tenang mendengarkan.
“Namun ga tahu kenapa mas, semakin lama aku rasa malu minta ke rumah ibadah. Alhasil suatu hari aku mutusin berhenti minta. Pagi harinya aku tanya ke istri ada makanan atau ngga, istri bilang untuk hari ini ga ada sama sekali. Jadinya aku berangkat kerja tanpa membawa bekal yang biasanya aku bawa tiap hari.”
“Pada saat istrahat makan siang, teman-teman membuka bekalnya masing-masing. Karena aku tidak bawa bekal, dan tidak punya uang untuk membeli makanan maka aku menyendiri untuk tidur aja mas daripada kepikiran lapar.”
“Terus aku ketiduran di bawah pohon mas. Terus aku mimpi, didatangi kakek berjanggut lebat dengan jubah panjang putih bersih. Kakek itu datang dan nanya gimana kabar ku. Aku langsung aja ceritain masalah-masalah kehidupan ku saat itu mas. Terus kakek itu nanya lagi, ‘mau tidak jika aku memberi mu jawaban atas semua masalahmu selama ini, inysa Allah seluruh masalah hidupmu akan teratasi’.”
“Mendengar pertanyaan seperti itu, aku penasaran mas, jadi aku bilang aja iya. Terus kakek itu bilang, ‘ucapkanlah dua kalimat syahadat bahwa kamu bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya’. Aku kemudian ikut tuntunan kakek itu ucapin dua kalimat syahadat. Abis itu aku langsung terbangun mas. Tapi saat itu aku tidak merasa itu sebuah mimpi yang benar mas, pikirku hanya mimpi biasa. Jadi aku abaikan aja” mendengar sepenggal cerita seperti ini membuat ku semakin penasaran tentang kelanjutannya. Sementara di sisi lain, akal logika ku mendesak untuk tidak percaya, setelah ditipu beberapa kali oleh orang tak bertanggung jawab dengan modus butuh uang karena kehilangan dompet dan handphone dan harus ke kampung segera, membuat sebuah stereotype terbang kesana kemari dalam benak ku – bisa jadi ini hanya akal dan cerita baru untuk melakukan penipuan. Namun, untuk menghormati bapak tsb, aku tetap menunjukkan sikap tertarik pada cerita bapak tsb. Dan bapak itu pun melanjutkan kisahnya.
“Saat aku pulang di sore hari, aku lihat ada makanan di atas meja mas. Jadi aku tanya ke istri, ini makanan dari mana. Istri bilang kalau siang tadi datang kakek yang nyumbang sembako. Setelah ku tanya lagi, ciri-ciri kakek yang istri aku ceritain persis sama dengan kakek yang mendatangi ku di mimpi siang tadi. Aku jadi agak merinding mas, itu bukan sebuah kebetulan yang bisa terjadi tiap hari.”
“Terus gimana pak, bapak langsung syahadat setelah itu?” penasaran ku terlanjur besar, tak sadar aku secara spontan menanyakan kelanjutan cerita yang sepertinya sudah akan berakhir. Namun ternyata aku salah.
“Oh, nggak mas. Aku masih ragu. Semua hal yang akan terjadi dan yang aku sama keluarga terima jika pindah agama buat aku harus mikir berkali-kali mas, berhari-hari, berminggu-minggu sampai sebulan untuk akhirnya mutusin. Tapi semenjak itu, aku sudah nggak pernah lagi minta ke rumah ibadah. Akhirnya, aku minta pendapat istri tentang apa yang aku rasakan, tentang pertentangan iman yang aku rasa di hati. Dan ternyata istri, responnya positif mas. Dia bilang jika memang aku yakin dengan keputusan itu, maka dia bakal ikut dan patuh pada keputusanku. Dan akhirnya aku mutusin untuk jadi muslim mas. Dengan harapan, hidup aku sekeluarga setelah ini benar-benar membaik”
“Alhamdulillah ya pak, bapak bisa dapat hidayah seperti itu. Tapi bagaimana bapak dari kaimantan bisa sampai kesini?” tanya ku yang mengira cerita itu telah khatam. Namun, ternyata aku salah lagi.
“Tapi gimana ya mas, aku ngerasain, kok masalah aku ga ada yang selesai mas. Aku masih susah seperti dulu-dulu. Malah aku rasain hidup ku sekarang lebih berat daripada dulu mas” tiba-tiba suara bapak itu bernada lebih rendah, intonasi yang lebih pelan, dengan raut wajah yang tanpa dia sebutkan pun, aku dapat membaca beban-beban hidup yang telah banyak wajah itu hadapi. Matanya berkaca-kaca. Nafasku tertahan. Aku terhenyak. Cerita ini masih jauh dari selesai.

***


Mari Tebar Kebaikan!
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInShare on TumblrPin on Pinterest