Sehalus Embun Part 2

arz2

oleh Ahmad Razak Mustafa

Nyaring klakson kereta berbunyi layaknya suara induk paus yang sedang bingung mencari anaknya yang hilang. Menyesakkan. Peluit kereta api beberapa kali ikut menyahut menandakan kereta api silih berganti datang dan pergi. Ruang tunggu stasiun itu cukup ramai, hampir setiap bangku terisi, dengan orang-orang ramai berdiri di sisi-sisi ruangan. Satu dua berbincang, beberapa lain berdiri sambil berkutat dengan handphone nya, beberapa lain mungkin berdiri sembari menunggu kebagian tempat duduk. Akhir tahun, libur natal dan tahun baru, memang membuat banyak orang ingin menghabiskan waktu keluar kota. Di salah satu barisan bangku aku tampak khusyuk berbincang dengan seorang bapak berpakaian polo berkerah dan celana panjang tiga per empat, bersama anaknya yang duduk riang di pangkuan ayahnya.

“Maksud bapak bagaimana?” aku mencoba meminta keterangan lebih rinci tentang pernyataan bapak sebelumnya.
“Setelah aku pindah agama, aku tetap hidupnya melarat mas. Kebutuhan sehari-hari kadang tetap tidak terpenuhi. Aku percaya banget sama perkataan kakek yang dulu aku mimpikan dan mengajak aku bersyahadat, kalau dengan ber-Islam masalah-masalah aku akan selesai. Tapi ternyata ga gitu mas, hidup aku gini-gini aja” jelas bapak dengan suara semakin parau. Ada hal lain yang masih tersimpan dan belum tersampaikan.

“Yang sabar pak, Allah memang senang menguji hamba-hambaNya, dan itu merupakan tanda kasih sayang-Nya pada . . .”
“Puncak kepanikan aku waktu istriku ingin melahirkan.” dengan nafas yang seperti kurang teratur, bapak tersebut lanjut bercerita seakan tidak mendengar kalimatku barusan. Tak aku risaukan. Potongan kalimat barusan lebih membuatku penasaran ketimbang ketidakacuhannya pada kalimatku.

“Waktu istriku akan melahirkan anakku yang kedua, aku panik banget mas. Aku ngga punya sepeserpun untuk biaya persalinan. Aku bingung harus cari pinjeman kemana. Mau pinjem di tetangga utang aku masih banyak. Mau minjem ke toko kelontong seberang rumah, barang-barangnya masih banyak yang belum aku bayar. Aku pusing banget mas, gak tahu mau kemana.” nafas bapak semakin tidak teratur. Mata yang sebelumnya putih bersih, seperti terkena lunturan warna merah entah darimana. Raut wajah bapak mengisyaratkan satu kata. Sedih.
“Akhirnya karena aku tak punya pilihan lain, aku terpaksa memberanikan diri kembali ke rumah ibadah agamaku yang dulu mas. Aku tahu kemungkinan aku diberi pinjaman sangat kecil. Aku tahu aku sudah tidak pantas minta kesana lagi. Tapi aku tak punya pilihan lain mas.”

“Akhirnya pas tiba di rumah ibadah, aku mengutarakan maksud dan tujuan kedatanganku. Dan ternyata benar dugaanku. Aku tidak dianggap lagi. Dan mereka tidak bersedia membantu, karena katanya aku telah mengkhianati kasih Tuhan yang selama ini telah Tuhan berikan padaku. Pihak rumah ibadah masih bersedia memberiku kesempatan kedua, jika aku bersedia untuk kembali ke agamaku yang dulu.” sesaat bapak menghentikan ceritanya untuk mengatur nafas.
“Terus gimana pak? Bapak bilang apa?” tanpa sadar, ketidaksabaranku membuat ku bertanya seperti seorang anak kecil yang sedang didongengkan pengantar tidur oleh ayahnya. Membuatku seperti tidak memiliki simpati pada apa yang sedang dilalui bapak ini.

“Aku ga bisa bilang apa-apa mas. Aku masih tetap yakin Allah pasti punya jawaban lain. Aku masih berharap pada Allah. Semoga Allah bisa memberikan jalan keluar. Jadi aku pergi mas, masih tanpa apa-apa. Aku pulang.”
“Karena waktu melahirkan istriku sepertinya semakin dekat, walau tidak ada uang, aku nekat langsung bawa istri aku ke puskesmas untuk bersalin mas. Aku pasrah tentang apa yang akan terjadi nantinya. Mau aku dituntut karena tidak bisa membayar itu urusan nanti, yang penting istriku bisa bersalin dan anakku bisa lahir dengan selamat.” bapak menengadah ke atas. Mengambil nafas panjang. Mencegah agar butiran air di kelopak matanya, tidak berubah menjadi tetesan air mata yang meleleh di pipi. Mungkin dia terlalu malu, aku melihat dia menangis. Aku hanya bisa terdiam, belajar dari kesalahanku sebelumnya. Memberikan waktu bagi bapak untuk menguasai dirinya sebelum melanjutkan kisahnya.

“Alhamdulillah persalinan istriku lancar, dan anakku lahir selamat mas. Aku bahagia sekali, tapi rasa khawatirku tentang pembiayaan persalinan terus terpikirkan mas. Aku setiap sehabis sholat hanya bisa berdoa memohon bantuan Allah, aku minta tolong sama Allah. Kalau bukan Allah yang membantu dan menolong, tidak ada lagi tempat aku berharap. Aku pasrah mas sama Allah. Hanya Allah satu-satunya harapanku waktu itu.” jelas bapak dengan nafas dan intonasi yang sedikit lebih teratur.

“Dua hari setelah persalinan, aku kemudian dipanggil menghadap ke resepsionis mas. Aku tahu, cepat atau lambat aku harus bayar biaya persalinan. Dan saat itu adalah saatnya aku harus menghadapi nota pembayaran biaya persalinan. Aku ragu melangkah mas, tapi mau ga mau aku harus sebisa mungkin menjelaskan keadaan ekonomi keluargaku. Aku harap semoga puskesmas bisa kasi waktu sekitar seminggu untuk aku cari pinjeman.”

“Pas aku sampai di resepsionis, aku dikasi nota mas. Tapi aku kaget mas. Ternyata bukan nota tagihan, tapi nota lunas. Aku awalnya ga ngerti mas, aku belum bayar apa-apa tapi biaya sekitar sejuta setengah tiba-tiba lunas.” sekarang bapak bercerita dengan nada sedikit lebih bersemangat dan raut yang walau terlihat begitu serius, tapi mengisyaratkan keharuan.

“Petugas rumah sakit bilang kalau ada bapak yang sudah lunasin biaya persalinan istriku. Petugas rumah sakit menyebutkan namanya. Aku ngga kenal mas. Terus aku minta dipertemukan sama bapak itu mas. Akhirnya aku diantar ketemu bapak itu, yang kebetulan masih berada di lobby puskesmas.”

“Aku kenalan mas sama bapak itu. Terus aku nanya soal biaya persalinan istri ku. Dianya cuma bilang, ‘tidak usah dipikirkan pak, yang penting istri bapak bisa melahirkan dengan lancar, dan anak bapak bisa lahir dengan selamat, yang penting bapak harus selalu sabar dan berusaha yang terbaik sama tetap terus tawakkal pada Allah’. Aku langsung ucapin terima kasih sebanyak-banyaknya ke bapak itu mas. Sehabis itu, bapak itu langsung pamit pulang. Terus sampai sekarang aku ngga tahu lagi kabar bapak itu mas.”

“Aku bersyukur banget mas. Alhamdulillah Allah nolong aku melalui bapak itu. Aku senang banget. Saat itu aku benar-benar yakin sama pertolongan Allah mas.”
“Alhamdulillah ya pak, itu keren banget pak. Bapak tiba-tiba bisa dapat bantuan yang datang ga tahu dari mana. Allah pasti yang menurunkan pertolongan itu pak. Tidak semua orang bisa merasakan pertolongan Allah yang sedekat itu pak. Alhamdulillah.” ungkap ku yang juga merasakan keharuan setelah mendengar cerita bapak.

“Iya mas Alhamdulillah. Tapi bagaimana ya mas. Setelah istriku melahirkan akhirnya aku mutusin pindah ke Jawa. Aku harapinnya bisa dapat pekerjaan dengan pendapatan yang lebih layak biar keluargaku bisa hidup lebih baik mas. Tapi ya gitu mas. Sama aja susahnya.” setelah menyampaikan kisah yang menurutku menakjubkan, sepertinya bapak masih belum menemukan jawaban dari masalah yang dihadapinya.

“Susahnya seperti apa emangnya pak?” aku begitu ingin tahu, masalah apa yang membuat bapak masih ragu pada hidupnya. Setelah dia sendiri mengungkapkan betapa Allah telah menunjukkan kuasaNya.
“Aku belum bisa dapat penghasilan yang layak mas. Jangankan layak, untuk setiap hari aja aku belum tahu bakal dapat uang dari mana.” pandangan bapak tertunduk, sesekali memandangi dan mengusap kepala anaknya yang wajahnya seperti anak-anak pada umumnya. Ceria tanpa tekanan hidup, belum memahami beratnya beban yang saat ini dirasakan oleh ayahnya.

“Kemarin aku sempat ditawarin jadi supir angkot mas. Tapi ada beberapa masalah jadi ngga jadi. Aku sudah coba nyari kerja sana sini, tapi belum juga nemu mas. Sekarang aku rencana balik ke kampung mas. Aku ngga tahu mas harus gimana.”
“Aku percaya pada pertolongan Allah mas. Tapi melihat kondisiku sekarang, sepertinya kemarin itu cuma mimpi atau kebetulan saja. Aku gimana mau yakin mas, aku benar-benar ngga tahu harus bagaimana.”
“Sudah beberapa bulan aku muallaf mas, tapi aku belum bisa membelikan istri aku mukena untuk sholat. Itu sana istriku mas, lagi ngejagain yang kecil.” bapak itu menunjuk ke belakang ku. Aku menoleh. Ada seorang wanita di balik pilar yang sedang duduk di bangku pojok, agak jauh jaraknya dari kami. Wanita itu tengah menggendong bayi, pakaiannya hanya kaos lengan pendek dan celana pendek yang hanya sampai menutupi lututnya.

“Kami kalau sholat mas, istriku pakaiannya hanya itu. Kami ngga punya kain yang bisa buat nutupin aurat istriku mas. Jadi selama ini istriku sholat ga nutupin aurat mas. Kepala, lengan, sama betis sampai kakinya terbuka.” jelas bapak dengan begitu tegas seakan-akan aku tidak akan percaya dengan apa yang dikatakannya.
“Untungnya istriku sabar banget orangnya mas. Dia ga pernah ngeluh sama kondisiku yang ngga bisa hidupin dia sama anak-anak dengan baik. Tapi masa mau seperti ini terus mas?” bapak yang dari tadi terus bercerita, mulai memberikan pertanyaan yang sepertinya tidak akan mudah aku jawab.


Mari Tebar Kebaikan!
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInShare on TumblrPin on Pinterest