Sehalus Embun Last Part

arz3
oleh Ahmad Razak Mustafa

Belum sempat aku berkata apa-apa, bapak kembali bercerita dengan nafas yang agak tertahan.
“Anakku yang kecil dari tadi pagi muntah-muntah mas. Sepertinya masuk angin. Aku takut banget mas.” nafas bapak kembali tidak teratur.
“Dari tadi dikasi makan, tapi pasti abis itu muntah. Mau ke puskesmas, aku ga ada duit berobat. Ongkos naik angkot ke puskesmas aja aku ga punya mas. Kereta ku masih besok pagi. Aku khawatir mas, kalau malam ini anakku diluar terus seperti ini, dia bisa tambah parah muntah-muntahnya. Aku mau sewa penginapan, tapi penginapan yang di seberang stasiun, harganya seratus lima puluh ribu semalam mas. Aku ga punya uang.” tidak ada yang aku rasakan selain iba. Bapak ini harus aku bantu.

Namun, logika ku kembali bergolak. Beribu alasan untuk tidak percaya pada bapak itu tiba-tiba bermunculan entah dari mana. Apa yang harus aku lakukan? Apa bukti bahwa bapak ini jujur? Ya Allah, tunjukkan jika bapak ini jujur atau berbohong. Aku sudah terlanjur skeptis pada orang-orang tak dikenal yang membutuhkan pertolongan seperti ini. Apakah aku sudah se-tidak peduli itu pada orang yang membutuhkan bantuan?
Sementara hatiku terus mendesak untuk segera memberikan apapun yang bisa aku berikan. Hatiku tak kuasa menahan simpati dan belas kasihan yang begitu mendalam pada bapak ini beserta keluarganya. Apakah aku se-polos itu untuk memercayai semua ceritanya?
Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?

Dalam hitungan detik, aku tak bisa diam seribu bahasa seperti ini. Dalam hitungan detik, aku harus mengambil keputusan. Percaya atau tidak. Bantu atau tidak. Kemudian aku mencoba memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.
Jika bapak ini bohong dan aku membantunya, maka aku akan rugi dan menjadi orang bodoh untuk kesekian kali yang dengan lugunya tertipu oleh modus-modus penipu yang telah aku telan mentah berkali-kali.
Jika bapak ini jujur dan aku tidak membantunya, maka aku akan mempertaruhkan keimanan sebuah keluarga muslim. Bapak ini sedang mengalami krisis keyakinan pada Allah. Jika kemudian karena keangkuhanku dia kembali pada agamanya yang dulu, maka aku telah membuat sebuah keluarga terjurumus ke dalam api neraka. Dan tentunya kelak, mereka akan menuntutku dan kemudian menyeretku juga ke dalam siksa abadi neraka.
Jika bapak ini bohong, aku rugi materi dan aku akan menyesali kebodohanku. Tapi itu bukan masalah jika dibandingkan dengan risiko aku menjerumuskan sebuah keluarga muslim pada lubang kesesatan. Aku tak dapat mentolerir itu. Risiko nya terlalu besar dan penyesalannya akan ku bawa seumur hidup bahkan hingga akhirat.
Aku harus membantu bapak ini.

“Pak, aku sebelumnya minta maaf belum bisa bantu banyak. Aku cuma bisa ngasi segini. Semoga bisa dipake buat cari penginapan untuk tidur bapak sekeluarga malam ini” secarik dari dua kertas yang tersisa di dompet, ku keluarkan yang kemudian aku beri ke bapak.
“Aku juga ga bawa banyak pakaian, tapi ini aku punya kemeja untuk istri bapak. Walau belum bisa menutup aurat untuk sholat, tapi setidaknya bisa menutupi lengan istri bapak.” sehelai pakaian aku tarik dari dalam tas punggungku, lalu ku berikan ke bapak itu. Kemudian perhatianku tertuju pada kresek di samping ku. Snack yang tadi aku beli buat bekal di kereta nanti.
“Ini juga aku ada roti buat adek, tapi tinggal sebungkus. Cuma segini yang aku bisa kasih pak. Maafin ga bisa bantu banyak pak.” ungkapku bersama senyuman pahit karena ku yakin ini semua tidak membantu apa-apa.
“Eh, beneran mas? Masnya serius? Aku ga enak mas kalau minta-minta seperti ini.” ungkap bapak menolak.
“Nggak kok pak. Kan bapak ga minta dari tadi, ini aku aja yang mau ngasih ke bapak.” balasku mencoba meyakinkan bapak untuk menerima pemberianku.
“Makasih banyak mas. Aku ga bisa balas apa-apa. Semoga Allah yang balas ya mas. Ini dek, dapat roti dari om” bapak itu kemudian memberi sebungkus roti ke anaknya yang sedari tadi terus bermain di sekitar ayahnya.
Aku tahu sebenarnya bukan ini yang dibutuhkan oleh bapak. Bapak ini membutuhkan bantuan untuk membuatnya tetap pada keyakinannya pada Islam, pada Allah. Maka aku memberanikan diri untuk menyemangatinya.
“Yang sabar ya pak yang kuat. Allah menguji hambaNya untuk menunjukkan kasih sayangNya. Kemarin bapak di agama yang dulu dijamin bisa makan setiap hari. Kalau bapak jadi muslim, dan kemudian makan bapak juga langsung terjamin, keimanan bapak hanya sebatas makanan. Allah kemarin menunjukkan hidayah-Nya pada bapak. Sekarang Alhamdulillah bapak sudah muslim. Saat ini Allah ingin mengokohkan keimanan bapak. Allah ingin menguji keimanan bapak, agar bapak tidak mengimani Allah hanya sebatas makanan atau kebutuhan duniawi lainnya. Allah ingin, bapak beriman pada Allah bagaimana pun kondisi bapak. Sehat atau sakit, senang atau sedih, lapang atau susah, bagaimana pun kehidupan bapak, Allah ingin menguatkan keimanan bapak bahwa bapak tetap akan beriman padaNya bagaimanapun kondisi bapak sekeluarga. Insya Allah setelah lewat ujian ini, bapak akan dapat hikmahnya. Insya Allah setelah kesusahan seperti ini, bapak akan dapat hadiah yang besar dari Allah. Selalu yakin sama Allah, karena Allah yang paling tahu apa yang terbaik buat kita.” ku berdoa semoga apa yang ku sampaikan dapat dimengerti oleh bapak, setidaknya bisa sedikit membantu untuk menguatkan keyakinannya pada Allah.

“Iya mas, makasih banyak bantuannya mas. Mohon doanya ya mas. Semoga aku sekeluarga bisa segera keluar dari kesulitan ini. Semoga mas nya juga, sekeluarga senantiasa diberkahi dan dirahmati oleh Allah.” bapak menjawabnya dengan doa yang aku balas dengan senyuman bersama ungkapan amin dalam hati.
Setelah itu, bapak itu pergi sesaat, lalu kembali sambil menggendong anak keduanya, umurnya baru beberapa bulan, masih sangat kecil dan rapuh. Setelah mengobrol santai tentang beberapa hal, bapak itu kembali kepada istrinya. Beberapa kali dia terus memantau kedatangan kereta, sambil sesekali melihatku, memberi tahu kalau-kalau keretaku telah datang.
Sekitar pukul sembilan malam, akhirnya keretaku pun tiba, dan aku bersiap naik kereta. Aku bersalaman dengan bapak itu, dengan senyuman yang tertoreh indah di wajahnya. Semoga saja itu tanda bahwa dia tidak lagi ragu akan kuasa dan pertolongan Allah. Aku pergi meninggalkan ruang tunggu, masuk ke dalam deretan gerbong-gerbong logam yang selama beberapa jam kedepan akan membawa ku ke Surabaya.
Tanpa sadar aku lupa bahwa petang tadi, aku membawa sebuah beban yang begitu berat di hati ini. Namun sekarang, perasaan ku ringan, hati ku penuh akan rasa syukur dan haru. Jika boleh berkata, sebenarnya malam ini akulah yang telah ditolong oleh seorang bapak yang tak ku kenal dari penyesalan bodoh hanya karena masalah yang sangat tidak penting untuk disesali dan menyadarkanku betapa Allah sangat dekat dengan kita. Bahkan untukku yang penuh akan dosa, Allah langsung menjawab kegelisahanku tepat setelah ku meminta pada-Nya.
Sayangnya, aku lupa siapa nama bapak itu. Aku lupa nama anak-anaknya. Dan aku lupa kemana dia hendak pergi bersama keluarganya kala itu. Semoga saja, saat ini bapak beserta keluarganya telah hidup layak dengan keimanan serta ketaqwaan yang kian mengakar dalam hati dan kehidupannya.

* * * * *

Dalam hidup ini kita sering terpaku pada masalah yang kita hadapi. Kita terlalu sibuk mencoba mencari jalan keluar, dan kita lupa untuk mencurahkan kegelisahan kita pada Dzat Yang Maha Dekat dengan kita. Dia senantiasa menunggu kita untuk berdoa pada-Nya.
Hidayah dan pertolongan Allah itu bagai embun di kala malam. Saat hidup ini begitu gelap dan kelam, kita memang seringkali tidak bisa melihat apa-apa, semua begitu gelap, pertolongan Allah pun kadang tidak sanggup kita lihat. Namun saksikanlah, ketika pagi menjelang, cahaya meneyelimuti langit, engkau kan dapati butiran-butiran embun yang menyejukkan pada tiap-tiap helai daun. Ya, tanpa kau lihat pun, pertolongan Allah selalu ada di sekitar kita, karena Allah menunjukkan kuasaNya sehalus embun di pagi hari. (End)


Mari Tebar Kebaikan!
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInShare on TumblrPin on Pinterest